Bila Takdir yang Bicara
Takdir memang tak selamanya seindah yang
kuharapkan,
terkadang kutemui jalan yang benar-benar
lurus,
tapi tak jarang terhampar jalan terjal
dan meniku.
Semua bukan sepenuhnya karena takdir,
tapi lebih pada bagaimana aku menjalani
alur hidup yang telah tergaris.
Aku tahu itu, bahkan aku benar-benar
sadar.
Tapi entahlah rasa lelah itu selalu
mengusikku,
semua acapkali terjadi di saat aku
mencoba menerka garis-garis yang terpahat di telapakku.
Terkadang resah hinggap di sela ke
kosongan batinku,
aku tak tahu arah, aku hilang tujuan.
Nelangsa sering kali membaur dalam kata,
menyekat tawa yang selalu kurindukan.
Aku ingin terus berjalan lurus
selurus-lurusnya,
meski seandainya ada jalan yang lebih
mudah yakni membelok.
Entahlah aku semakin tak nyaman dengan
semuanya, aku ingin luluhkan semua lukaku di tengah-tengah ketegaran yang telah
kubangun dengan tawa kebohongan,
setidaknya itu akan mampu mengobati riuh
dihidupku.
Takdir memang tak selamanya seindah yang
kuharapkan,
terkadang kutemui jalan yang benar-benar
lurus,
tapi tak jarang terhampar jalan terjal
dan meniku.
Semua bukan sepenuhnya karena takdir,
tapi lebih pada bagaimana aku menjalani
alur hidup yang telah tergaris.
Aku tahu itu, bahkan aku benar-benar
sadar.
Tapi entahlah rasa lelah itu selalu
mengusikku,
semua acapkali terjadi di saat aku
mencoba menerka garis-garis yang terpahat di telapakku.
Terkadang resah hinggap di sela ke
kosongan batinku,
aku tak tahu arah, aku hilang tujuan.
Nelangsa sering kali membaur dalam kata,
menyekat tawa yang selalu kurindukan.
Aku ingin terus berjalan lurus
selurus-lurusnya,
meski seandainya ada jalan yang lebih
mudah yakni membelok.
Entahlah aku semakin tak nyaman dengan
semuanya, aku ingin luluhkan semua lukaku di tengah-tengah ketegaran yang telah
kubangun dengan tawa kebohongan,
setidaknya itu akan mampu mengobati riuh
dihidupku.








0 Response to "Bila Takdir yang Bicara"
Posting Komentar