Cinta Tak Harus Memilih

Cinta Tak Harus Memilih
     Bagiku tempat ini masih sama, meski di beberapa bagian telah terjadi perubahan tapi setidaknya disini  masih menyimpan kenanganku akan masa putih abu-abu satu tahun yang lalu. Tanpa terasa kakiku melangkah menuju sebuah ruang yang menyimpan foto-foto para alumni, dan akhirnya aku menemukan apa yang aku cari. Foto alumni tahun 2010-2013, disana terpampang wajah-wajah yang sangat aku kenal yaitu teman-teman seangkatanku. Ketika aku mengamati satu persatu wajah familiar itu, senyumku seakan tak mampu tertahan ketika aku menemukan wajah seseorang yang sangat ku sayangi namanya Gita. Mungkin sekarang dia sudah hidup bahagia bersama orang yang benar-benar mencintainya.
     “Gita, setelah lulus kamu mau kemana, udah punya rencan belum?”
     Sesaat kulihat expresi wajahnya berubah, terlihat buliran bening disudut matanya. Tapi kesedihan itu dengan cepat menghilang terhapus senyum yang mengembang dari dibibirnya.
     “Mau tahu aja, rahasia dong dasar kepo. Hahaha,” kata Gita sembari berlalu menuju kelas meninggalkanku yang masih bengong di depan kelas.
      “Dasar usil, kagak ada bedanya sama si Angga, sama-sama rese,” teriakku.
     “Eh, ngapain manggil-manggil?” kata seorang cowok yang namanya kusebut.
      “Idih PD,” kataku sambil menjulurkan lidah kearahnya. Kulihat dia mulai mengerutkan dahi, sontak akupun langsung berlari masuk kelas.
      “Kenapa Put? Kayak dikejar setan aja,” tanya Gita agak terkejut.
     “Ini lebih parah dibanding setan, tapi dikejar sama dia tu,” kataku sambil menunjuk ke arah Angga yang sedang ngobrol bareng teman-teman OSISnya.
      “Oh,” kata Gita singkat. Expresi Gita memang selalu berubah kecut ketika nama Angga di sebut, pasalnya Angga yang notabene Ketua MPS itu adalah mantan pacar sekaligus cinta pertama Gita. Entah apa yang terjadi di antara mereka, yang jelas tersiar kabar bahwa hubungan mereka telah berakhir 7 bulan lalu. Tapi aku yakin mereka masih saling cinta, tapi mereka malu mengakuinya.
     “Ih, kenapa sih kok cemberut terus. Gak biasanya kamu kayak gini, biasanya kamu cengingisan kagak jelas,” tanyaku heran.
     “Segede gini kagak jelas, emang kamu? Abstrak,” jawabnya malah tertawa.
     “Dasar rese,” kataku sambil mencubit pipinya. Kamipun tertawa bersama.
      Gita, gadis manis yang baik, lemah lembut, pintar, meskipun terkadang dia jahil dan cengeng tapi dia tetap seorang sahabat yang mengerti aku. Saat kami bersama selalu ada kejahilan yang kami lakukan, dan aku bahagia berteman dengannya. Tapi beberapa bulan terakhir aku merasa ada yang berbeda dari Gita, dia sering melamun. Gita tak seceria dulu, tapi sampai saat ini dia belum mau menceritakan apapun padaku.
***
     “Eh, si Gita kenapa sih? Beberapa hari belakangan dia jadi murung banget, aku lihat-lihat dia juga jarang gila-gilaan lagi?” tanya Rahma yang duduk di depanku.
     “Aku juga bingung Ma, sekarang sikapnya aneh, sering melamun. Apalagi seminggu ini, diemnya tambah parah. Kalau aku tanya dianya cuma ketawa.”
     “Mudah-mudahan dia baik-baik aja ya. Ngomong-ngomong kemana si Gita?”
     “Gak tau nih, tadi sih ke kantin bareng Arma. Tapi belum balik juga.”
     Ketika aku dan Rahma tengah asik ngobrol, tiba-tiba Gita datang setengah berlari. Terlihat air bening memenuhi bola matanya, ada apa lagi? Batinku.
     “Git, kamu kena…” belum sempat aku bertanya Gita sudah berhamburan memelukku. Aku membalas pelukannya dan menunggu hingga dia lebih tenang.
     “Putri aku mau ngomong, ke taman yuk,” ajak Gita setelah tangisnya mereda.
     Aku menangkap wajah-wajah penuh tanda tanya dari teman-temanku, aku memberikan isyarat pada Rahma untuk mencairkan suasana. Dan memberikan kode pada mereka bahwa “Semua baik-baik saja”.
     “Put, kamu tahu Rian kan?” kata Gita memulai percakapan.
     “Rian keponakan tetangga kamu itu? Emang kenapa dia?” tanyaku penasaran.
     “Sebenarnya dia dijodohkan sama aku, dan katanya setelah lulus aku mau diajak ke tanah kelahirannya. Padahal kamu tahu sendirikan aku masih punya banyak mimpi dan aku juga ingin bebas memilih jalan hidup yang aku inginkan, tapi orang tua ku gak pernah mau ngerti itu. Dan yang menbuatku tertekan dengan perjodohan ini karena aku tak mengenalnya, apalagi mencintainya. Walaupun dia telah beberapa kali mencoba mendekatiku, aku belum bisa menerimanya,” sambung Gita dengan mata menerawang.
     “Mungkin karena di hatimu masih ada Angga, makanya kamu tak bisa berpaling pada Rian? Iya kan ngaku aja, gak usah bohong,” kataku memancing.
      “Kenapa kamu ngomong gitu, gak usah nyangkut-nyangkutin dia deh. Sok tahu kamu Put,” katanya agak salah tingkah.
     “Bukannya aku sok tahu tentang isi hatimu tapi feelingku mengatakan bahwa di hatimu masih ada Angga. Walau aku tak tahu yang sebenarnya terjadi di antara kalian, tapi caramu memandangnya masih sama seperti saat kalian bersama dulu. Orang bodohpun tahu kalau kamu masih mencintainya, jadi jujurlah pada hatimu sebelum semua terlambat,” kataku meyakinkan.
     “Oke, aku memang masih ada rasa padanya, tapi rasa ini cuma milikku. Aku melihat kebencian dari matanya saat dia menatapku,” katanya agak kecewa.
     “Tapi Git. Kamu kan…” tiba-tiba ucapanku dipotong oleh Gita.
     “Ya sudahlah Put, mungkin Angga memang hanya akan menjadi masa lalu ku saja. Dan sekarang saatnya aku melihat Rian yang jelas-jelas mengharapkanku.”
     “Kamu yakin? Ini menyangkut masa depan kamu lho Git. Jika kamu menerima Rian, itu artinya kamu akan kehilangan orang yang kamu cintai dan parahnya lagi kamu harus rela masa depanmu diatur oleh keluarga Rian. Kamu tidak akan punya kebebasan lagi untuk bermimpi,” kataku agak ragu dengan keputusannya..
     “Aku sudah memikirkan masalah ini masak-masak Put. Aku pasrah! Biarlah semua ini terjadi. Aku rela jika ini bisa membuat orang tuaku bahagia. Kuserahkan semuanya jangankan cintaku pada Angga, hidup dan matikupun untuk mereka. Meski menjawab ya artinya merelakan masa depanku, tapi aku tak punya pilihan lain. Semua demi keluargaku,” katanya tertunduk lalu tersenyum meyakinkanku.
     Tanpa menjawab perkataan Gita, aku memeluknya. Aku tahu jauh di dalam hatinya dia menangis, namun rasa sayangnya pada keluarga menghapus semua rasa sakit itu.
     “Aku percaya apapun yang kamu pilih itu yang terbaik, kamu bukanlah gadis bodoh yang mudah menyerah pada keadaan,” bisikku menyemangatinya
***
     Setelah kejadian itu, Gita perlahan-lahan kembali ceria seperti sedia kala. Tapi terkadang aku masih melihat luka di matanya. Meski dia selalu tertawa di depanku, aku tahu dia menyimpan duka di hatinya. Aku masih sering berfikir bagaimana bisa Gita menerima perjodohan sepihak semacam itu? Bagaimana mungkin orang tuanya tega merebut semua kebebasanya.? Dan di tengah semua itu Gita masih selalu berkata, “Ini semua demi Ibu, Insyaallah ini yang terbaik. Aku percaya Tuhan tidak memberikan apa yang kita inginkan, karena Tuhan tahu apa yang kita butuhkan.”
     “Putriii… Ujian Nasional kimia ku dapat 92 lho, gak nyangka padahal sulit banget?” teriak Gita tepat di depanku.
     “Iya-iya yang dapet 92, kamu hebat,” kataku pura-pura kecewa. Tapi sejujurnya aku bahagia, Gita memang hebat. Di saat dia tahu bahwa usaha kerasnya dalam belajar tak akan mengantarkannya ke bangku perguruan tinggi, dia tetap tertawa dan optimis.
     “Kamu juga hebat kok, cuma beda 2 soal aja. Ngomong-ngomong kamu nanti jadi ke mana Put, udah punya pandangan belum?” tanyanya antusias.
     “Gak tau nih bingung. Kamu sendiri gimana, jadi ambil kuliah di sana?”
     “Em… Kayaknya egak deh Put, mungkin di sana aku mau ikut kursus saja supaya bisa cepet kerja. Kebetulan orang tuanya Rian punya usaha butik gitu, jadi aku bisa belajar jadi desainer. Hehehe,” katanya ceria tanpa beban.
     “Kok gitu sih, katanya nanti kamu mau dikuliahin sampai lulus? Sayang banget Git kalau gak kuliah, kamu kan pinter pasti banyak yang mau membiayai kuliahmu. Katanya mau jadi guru Kimia?”
     “Gak apa-apa lah Put, lagian kasian juga kalau keluarganya Rian harus membiayai kuliahku. Lagian kursus udah cukup, yang penting kan skillnya bukan ijazahnya. Oh iya Put, besok aku udah dijemput. Mungkin acara perpisahan aku dah gak bisa ikut.”
     “Lho kok gitu sih Git, itukan acara puncak kita. Gak bisa ditunda apa?”
     “Kemaren Rian sms aku, katanya udah pesen tiket. Kebetulan dia pas cuti.”
     “Ih egois banget sih tu cowok, menangnya sendiri. Kasih kamu sedikit waktu kek, masak acara perpisahan aja gak boleh. Tu cowok lama-lama maksa ya,” kataku kesel.
     “Gak apa-apa kok Put, dia anaknya baik kok. Kamu aja yang belum kenal.”
     “Kamu sih, anaknya kebaikan. Kalau aku ya, pasti udah kabur dari rumah, dari pada dijodohin. Emang ini jaman Siti Nurbaya?” kataku rewel.
     “Sudahlah, ini gak seburuk yang kamu pikirkan. Aku bahagia kok dengan perjodohan ini. Kalau aku pikir-pikir kejadian ini ada hikmahnya juga karena aku bisa melupakan Angga yang tak pernah benar-benar mencintaiku, dan akhirnya aku menemukan orang yang memang mencintaku yaitu Rian,” kata Gita sembari menggandeng tanganku  keluar menuju gerbang.
***
     Tak terasa waktu begitu cepat berlari, ia berjalan tanpa memberi kesempatan kepadaku untuk bersama Gita lebih lama lagi. Kini aku telah berada di antara kerumunan manusia yang tengah menunggu pesawat. Ya! Aku sedang di bandara mengantarkan Gita yang akan pergi jauh untuk tinggal bersama orang asing yang belum pernah ia kenal. Entah kapan tangan Tuhan akan mempertemukan kami lagi, tapi aku berharap suatu saat kami dapat berjumpa kembali dalam kebahagiaan.
     “Put, aku berangkat dulu ya,” kata Gita menepuk pundakku.
     “Udah mau berangkat ya Git, kok cepet banget sih,” tak dapat kusembunyikan raut sedih ini dari wajahku.
     “Ah kamu kok cengeng sih, kaya aku mau kemana aja. Kita masih bisa smsan kok Ek, aku janji gak bakalan lupain kamu,” kata Gita dengan senyumnya.
     “Beneran ya Git, kamu ati-ati ya di sana,” kataku mencoba tersenyum.
     “Iya sayang, oh iya titip salam ke Angga ya. Bilang jangan benci sama aku, aku mau dia kembali ceria seperti dulu. Sebenarnya aku berharap dia ada di sini supaya tak ada lagi kesalahpahaman diantara kami. Tapi ya sudahlah.”
     “Sudahlah, masalah dia serahkan semuanya padaku,” kataku percaya diri.
     “Ayo, pesawatnya mau berangkat,” kata Rian lalu menggandeng tangan Gita.
     “Kita berangkat dulu ya Putri, kapan-kapan kamu harus mampir ke rumah ya?” kata Rian sambil mengulurkan tangan padaku. Dan untuk terakhir kalinya aku memeluk Gita erat, berharap dia akan bahagia dengan hidup barunya.
     Beberapa menit kemudian pesawat Gita telah lepas landas meninggalkan kami, dan hingga detik ini Angga sama sekali tak menampakkan dirinya. Mungkin ini yang terbaik untuk mereka. Biarlah Rian menjadi masa depan untuk Gita, dan Angga tetap tinggal disini menjadi masa lalu untuk Gita.
    Cinta memang tak harus untuk miliki. Cinta seperti musim yang tak bisa ditebak, kadang hujan kadang pula kemarau. Ada saatnya tuk bersemi, ada pula waktu ketika gersang. Gita memang tak bisa memilih orang yang dia cintai. Tapi Tuhan memberikan dia cinta. Dan apa yang dia lakukan selama ini demi cinta. Demi cinta dan rasa sayangnya pada keluarga.
---END---

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS