Di Penghujung Desember
Di Penghujung Desember
Derai
hujan menyapa sang raja malam, memecah sunyinya hari menjadi riuh nan berirama.
Langit tak berbintang bulanpun enggan bersinar mengisyaratkan betapa kelabunya
suasana hati saat ini. Di balik tirai jendela yang rapat itu, terlihat bayangan
seseorang yang tengah termenung menatap langit. Seorang gadis yang sebenarnya
berparas amat manis, namun tertutupi oleh cahaya kamar yang remang-remang. Dari
sudut matanya tersirat kegalauan yang begitu mendalam, seakan dia ingin
berteriak meluapkan segala kerisauan yang mengusik hatinya. Namun
perasaan-perasaan itu seakan tertahan, ya... tertahan oleh keadaan. Keadaan
yang memaksanya menjadi sosok gadis tegar dan tabah. Namun, rasa sakit dalam
dadanya seolah tak dapat lagi iya tangguhkan. Karena perlahan linangan air mata
berjatuhan amat deras dari balik kelopak mata sayunya. Kali ini kesedihan itu
benar-benar tumpah, hingga suara isaknya menuntun sosok lain mendekatinya.
"Dis,
kamu kenapa? Kok tengah malam gini nangis? Mana lampunya dimatiin semua. Cerita
dong sama papa," tanya sosok itu, yang tidak lain adalah pak Beno, papa
Disa.
"Papa?
Papa kok ada sini sih, masuk kamar Disa tanpa izin!" jawab Disa agak
terkejut. :-(
"Maaf-maaf,
habis pintunya nggak kamu kunci sih," celetuk pak Beno.
"Ujung-ujungnya
Disa juga deh yang kalah, hem. . ." jawab Disa kesal.
"Ya
udah, papa minta maaf ya? Pertanyaan papa tadi belum Disa jawab lho?"
tanya papa Disa khawatir namun dengan mimik mengintrogasi.
Disa
hanya memandang papanya dengan tatapan sayu, matanya terlihat nanar berbias
kegelapan. Beberapa saat mereka hanya terdiam saling memandang, papa Disa
menerka-nerka gerangan apa yang ada dalam benak putri semata wayangnya ini.
"Papa
ingat besok hari apa?" tanya Disa memecah keheningan.
"E...a...e...a...
Emang besok tanggal berapa sih sayang?" tanya papa Disa kikkuk.
"Papa???
Besok tanggal 22 Desember pa."
Mendengar
penjelasan sang putri, pak Beno seakan dihantam oleh ombak yang amat dasyat dan
begitu tiba-tiba. Pak Beno menangkap kerisauan yang kini tengah berkecambuk
dalam benak putrinya itu. 17 tahun yang lalu tepatnya tanggal 22 Desember, dua
rasa yang bertolak belakang bergulat menjadi satu. Hari itu adalah hari yang
begitu membahagiakan sebab saat itu seorang bayi mungil hadir ke dunia yaitu
Disa, namun kebahagiaan itu seolah diselimuti kabut kelabu. Bagaimana tidak,
tepat setelah mengantarkan sang buah hati melihat indahnya dunia, sang mama
harus rela kembali ke pangkuaan Yang Kuasa. 22 Desember, hari yang seharusnya
menjadi hari bahagia bagi semua ibu.
"Disa
gak papa kan?"
"Lihat
sayang, di depan Disa masih ada papa. Papa selalu siap menjadi ayah sekaligus
ibu untuk Disa, kapanpun Disa ingin," kata papa Disa menenangkan hati sang
putri sembari membelai lembut rambutnya.
"Iya
pa... Disa sayang papa," jawab Disa sambil memeluk sang papa.
Selama 17 tahun, sang papa memang menjadi sosok
yang amat berharga bagi hidup Disa. Di sela-sela kesibukan kantornya, sang papa
mampu memberi perhatian lebih sebagaiseorang single parent. Hingga Disa tak
punya alasan untuk meratapi kepergian sang ibu. Namun, sesempurna apapun sang
papa memainkan peran seorang mama, tetapi terkadang Disa merindukan sosok mama
yang sesungguhnya. Terlebih lagi di usianya yang telah remaja, dia membutuhkan
figur seorang mama yang mampu mengajarinya menjadi seorang wanita yang
sesungguhnya. Perasaan rindu itu makin menjadi tatkala dia tahu bahwa esok
adalah hari ibu sekaligus hari ulang tahunnya yang ke 17. Harusnya besok
menjadi hari paling bahagia, tapi agaknya rasa lelah telah menyeruak dalam dadanya.
Disa amat lelah melihat ke akraban teman-temannya dengan sang ibu, dia selalu
merasa iri dengan mereka. Disa iri ingin mengucap kata "selamat hari
ibu", tapi dia tak tahu untuk siapa kata-kata itu diucapkan. Disa ingin
menyampaikan kata-kata itu pada mama, namun sang mama tak pernah hadir
menemuinya walau hanya dalam mimpi.
***
Ratu siang mengantarkan rembulan keperaduan,
mempersilahkan sang surya mengambil tempat di atas singgasana pagi. Namun tak
sedikitpun kemilau mentari dapat menembus langit, seolah sinarnya tertahan oleh
rinai hujan yang masih enggan beranjak pergi. Disa menatap gusar jam di tangan
kirinya, waktu telah menunjukkan pukul 6.30 lebih. Tapi dia belum juga
menemukan sang papa di dalam mobil.
"Pa... Jadi berangkat bareng gak pa? Disa ntar
telat nih. Ayo pa, cepetan?" teriak Disa dari dalam mobil yang telah basah
terguyur air hujan.
"Non, tuan sakit jadi hari ini gak masuk
kerja. Kata tuan, non suruh berangkat sendiri sama sopir," jawab bi Inah
yang tiba-tiba muncul dari balik jendela mobil.
"Apa bik? Papa sakit, sakit apa? Ya udah Disa
gak usah masuk saja biar Disa jaga papa," kata Disa panik.
"Nggak usah non, katanya tuan gak
apa-apa,"
"Ya udah deh, tapi kalau ada apa-apa bibi
hubungi Disa ya? Ingat hubungi Disa."
"Baik non."
Dalam perjalan menuju sekolah, Disa mendapat sms
dari sang papa.
"Pagi
putri papa tersayang :-D, maaf ya sudah bikin Disa khawatir. Papa gak papa kok
cuma kelelahan saja, nanti juga baikan kalau sudah istirahat. Sudah gak usah
mikirin papa, Disa fokus aja ke sekolah.
Salam sayang,
papa :-*."
Membaca pesan singkat dari sang papa, meneteslah
air mata Disa karna terharu. Disa mencoba menguatkan hatinya, meyakinkan
dirinya bahwa sang ayah akan baik-baik saja dan akan tetap begitu seterusnya.
Disa melangkah cepat di antara kerumunan siswa
yang tengah memperhatikan papan pengumuman, namun seolah tak perduli dia
berlalu begitu saja menuju kelasnya.
"Eh Disa, tumben berangkat siang gini.
Biasanya jan 6.30 dah standbay," kata seorang gadis dari sudut ruangan.
"Iya nih Re, aku kesiangan ayah aku sakit.
Jadi tadi sempet khawatir gitu," jawab Disa sambil menuju ke arah Rena
yang tengah asyik melakukan sesuatu di sudut kelas.
"Lagi ngapain sih Re, kok kayaknya asik
banget. Gak biasanya juga kelas sepi gini, emang ada PR yang belum dikerjakan
ya?" tanya Disa bingung.
"Ih kamu gimana sih, apa kamu gak baca papan
pengumuman di depan s_
ana
tu?" jawab Rena cuek.
"Apa sih Re, aku gak sempat lihat. Lha rame
gitu?"
"Inikan hari ibu, nah sekolah mengadakan
acara perlombaan menulis surat untuk siswa yang ditujukan buat ibunya
masing-masing. Dan lomba ini wajib diikuti oleh semua siswa, batas
pengumpulannya nanti pukul 12. Makanya semua pada sibuk merenung untuk nulis
surat, nah tu mukanya pada bego-bego. Hehehe. . . Dan yang lebih menarik bakal
ada hadiah untuk sang pemenang yang bisa diserahkan pada ibunya nanti,"
jelas Rena panjang lebar.
Dalam sekejab rona wajah Disa berubah suram, rasa
sakit kembali hadir dalam relung jiwanya. Tanpa kata dia kembali ke bangkunya,
terdiam lama dalam barisan kata.
"Tuhan...
Kenapa
engkau izinkan mereka mengadakan acara macam ini.
Sejujurnya
aku membenci hari ini, hari penuh mimpi buruk. Aku harus terus bersembunyi,
berlari dan terus berlari untuk mencoba menghapus rasa sakit ini.
Tidakkah
mereka tahu, ada aku di sini. Aku yang tak punya mama, aku yang bahkan tak
pernah mengenal sosok ibu dalam hidupku. Ah, kalian memang kejam!"
Kalimat-kalimat itu kembali hadir menusuk-nusuk
batin Disa, mengoyak setiap rasa sedih yang selalu berhasil dia selimuti.
Menyadari perubahan sikap Disa, Rena mencoba mendekati sahabat
baiknya ini.
"Dis, kamu kenapa? Maafin aku ya, kalau ada
kata-kataku yang menyinggungmu. Aku sungguh tak bermaksud melakukan itu."
"Enggak Re, kamu gak salah kok. Akunya aja
yang terlalu sensitif."
"Maaf ya Dis, seharusnya aku gak membahas
masalah hari ibu ini. Maaf ya Dis, maaf."
"Gak papa kok Re, tenang saja."
Dentang sang waktu berjalan begitu pelan, Disa
masih memutar-mutar otak semampunya. Namun, tak sedikit bayanganpun yang dia
dapat tentang sosok seorang mama. "Lalu harus dengan apa aku mencerminkan
rasa sayangku pada mama, aku bagaikan orang bodoh! Menulis barisan kata dalam
sepucuk surat pun tak mampu. Uh...dasar payah," batin Disa kesal. Tapi
tiba-tiba sebuah pemikiran hebat muncul dari hatinya, sebuah solusi yang dapat
menjawab segala kegundahan hatinya saat ini. Dalam diam, Disa segera
mengayunkan penanya. Merangkai kata demi kata, yang berbaris menjadi kalimat
yang indah. Dan berakhir dalam sebuah paragraf yang akan mengantarkannya menuju
sepucuk surat yang bermakna. Semua dalam
benaknya telah tercurah, rasa lega terpancar dari senyum manisnya.
Hari yang begitu melelahkan bertabur rindu,
mataharipun agaknya mulai letih membagi sinarnya. Semburat-semburat jingga
memenuhi langit senja, dalam kesyahduan Disa terpaku memandang sebuah nisan
yang tertancap kuat di sebuah makam. Makam yang terpetak rapi milik mamanya
tercinta, sesekali dia menyandarkan kepalanya di atas nisan itu. Dari mulut
mungilnya terlontar ribuan kata-kata, dia seakan tengah menceritakan segala hal
yang ia alami. Selayaknya seorang anak yang tengah menumpahkan isi hati pada
sang ibunda.
Tanpa terasa senja yang kemerah-merahan mulai
menghitam, sebagai pertanya mulai bergantinya siang menuju malam. Menyadari
bahwa dia sudah cukup lama menjenguk mamanya, Disa mulai beranjak pergi. Dia
ingat ada seorang papa yang pasti tengah menunggunya.
Disa berjalan dengan langkah pelan menuju pintu,
dia merasa bersalah pada papanya karena pulang terlalu larut tanpa meminta izin
sebelumnya. Tapi ada yang aneh, keadaan rumah begitu gelap tanpa sebuah cahaya
lampupun yang menyala. Dalam rasa takut dia perlahan mengetuk pintu, namun sama
sekali tak ada jawaban. Suasana begitu hening, tak ada tanda-tanda adanya
kehidupan. Dengan menelan ludah dia mencoba masuk ke dalam rumah yang ternyata
tak dikunci, perasaannya aneh dia merasa ada banyak mata yang mengawasinya tapi
bagaimana bisa di sana begitu sunyi, gelap, dan tak ada seorangpun. Disa mulai
takut, dia berlali secepat ia mampu tuk meraih skalar lampu yang terasa amat
jauh.
Dan ketika lampu menyala terang, sebuah kejutan
menantinya. "Selamat Ulang Tahun, sayang. Semoga kelak kamu jadi anak yang
berguna ya," kata pak Beno tiba-tiba. Dan diikuti iringan lagu selamat
ulang tahun dari semua hadirin yang datang.
Disa hanya terpaku di satu tempat tanpa ekspresi,
beberapa detik suasana kembali hening.
"Papa... Makasih," teriak Disa dengan
mata berkaca-kaca sembari memeluk sang papa.
"Disa gak nyangka papa inget ulang tahun
Disa."
"Mana mungkin papa lupa sayang, justru papa
lebih ingat dari siapapun. Mungkin lebih dari Disa sendiri, sebab Disa
segalanya buat papa."
"Ah papa..." panggil Disa manja.
Semua kejutan ini memang telah dipersiapkan pak
Beno jauh-jauh hari, di mulai dari pak Beno yang berpura-pura sakit, perlombaan
menulis surat untuk ibu, hingga pesta kejutan ulang tahun Disa, semua adalah
rencana pak Beno. Semua itu dilakukannya karena pak Beno menyadari kesedihan
yang selama ini dirasakan sang putri, dia berharap setelah apa yang terjadi
hari ini akan menyadarkan Disa bahwa di dunia ini Disa tidak sendiri. Pak Beno
ingin Disa sadar, bahwa dia masih memiliki seorang ayah yang akan selalu ada
untuknya kapanpun dan dimanapun.
"Pa, makasih ya buat hari ini. Disa seneng
banget," kata Disa pada papanya yang tengah duduk di taman.
"Iya sayang," jawab pak Beno sembari
menyeka air matanya.
"Lho, papa kok malah nangis?"
"Enggak sayang, papa cuma terharu baca surat
dari Disa ini. Gak nyangka papa kalau Disa bakal nulis kayak gini, papa seneng
banget," kata pak Beno sembari menyodorkan sepucuk surat.
"Lho, kok bisa ada di tangan papa?
Jangan-jangan... Oh, dasar papa jahat," tanya Disa belagak cemberut.
"Hehehe... Iya, ini memang rencana papa. Maaf
ya, tapikan Disa jadi bisa meluapkan isi hati kamu yang ruapet itu," bela
pak Beno bangga.
"Iya deh papa menang. Disa bakalan sayang
terus sama papa,"
"Tuan BenO... Non Disa... Tamu-tamu sudah
menunggu untuk acara puncak..." teriak bi Inah, membuyarkan percakapan di
antara Disa dan papanya.
"Dasar
bi Inah, cerewetnya mengalahkan penyiar
radio. Hehehe..." :-D
***THE END***
Read Users' Comments (0)







