Hiasan Pena dalam Surat Kecilku

 Hiasan Pena dalam Surat Kecilku







      Awan-awan menghitam mengantarkan sang surya kembali keperaduan, senja tak sedikitpun menampakkan kemeronaannya sebab terhalangi oleh air mata langit yang tengah tumpah mengguyur bumi. Aku terduduk lesu di sebuah ruangan sempit bercahaya remang-remang, mataku menerawang dengan tatapan kosong seolah aku tengah terhimpit kejamnya langit dan bumi hingga aku tak mampu untuk bergeming. Lelah, rapuh, dan sakit, gejolak yang kini tengah ku rasa. Ini adalah sebuah malam yang amat panjang dan kelabu, serasa jarum jam hanya berjalan di tempat hingga aku penat menatapnya.

      “Jingga… kamu kenapa?” sebuah suara terdengar memanggilku namun terasa begitu jauh.
      Aku tak memperdulikan panggilan itu, pandanganku masih menerawang jauh melamun tanpa arah yang jelas. Tanpa aku sadari, sesosok perempuan datang mendekatiku dengan langkah pelan sembari duduk menatapku yang tengah kalut dalam kesedihan.
      “Dik…!!!” kali ini panggilan itu benar-benar menyadarkanku.
      Aku terdiam, memandang lekat-lekat sosok di depanku ini. Tersirat sebuah kelelahan yang amat sangat, terlukis dari paras cantiknya. Perlahan butiran air mataku tak dapat lagi terbendung, mendung yang sedari tadi aku jaga akhirnya tumpah juga.
      “Jingga, kamu kenapa? Jawab kakak dik, kenapa kamu berteriak-teriak? Kamu bermimpi buruk, dik?” suaranya yang lembut terdengar khawatir. Namun aku hanya menggeleng lemah.
      “Iya, kak. Jingga tadi bermimpi bertemu ayah dan ibu. Mereka terlihat begitu murung. Saat Jingga ingin menghampiri mereka, tiba-tiba kakak muncul di antara ayah dan ibu. Kakak tersenyum memandangku sembari menggandeng mereka menjauhiku. Jingga takut kak, pertanda apa ini?”
      “Sudahlah dik, itu hanyalah bunga tidur. Semua akan tetap baik-baik saja, kakak akan selalu bersamamu.”
      “Tapi kenapa ayah dan ibu memandangku dengan tatapan menyedihkan?”
      “Jingga… dengarkan kakak, mungkin mereka ingin kamu kembali menjadi gadis yang ceria, ramah, dan selalu tersenyum seperti dulu.  Mereka pasti merasa sedih melihat kamu terus terpuruk, ikhlaskan saja kepergian mereka. Jangan terus kau ratapi, memang tidak mudah menghadapi penderitaan dan cobaan yang terus mendera, tapi akan terasa indah ketika kita menumbuhkan kesabaran dan rasa syukur dalam menghadapinya. Dan menyadari itu sebagai bagian dari sebuah proses yang akan menempa kita menuju kedewasaan diri. Ingatlah Jingga, Allah selalu tahu apa yang makhluknya butuhkan, bukan apa yang makhluknya inginkan,”
     “Iya kak, Jingga selalu mencoba menjadi seorang yang tabah layaknya kakak. Hanya saja saat ini Jingga sedang rindu kehadiran ayah dan ibu. Apakah salah jika Jingga punya perasaan itu?” suaraku bergetar menahan air mata di antara perasaan yang tak menentu. Aku tak dapat melanjutkan keluhku, memeluk kakakku adalah satu-satunya hal yang mampu membuatku nyaman saat ini.
      “Jingga…,” katanya lembut sambil menepuk kedua pundak kecilku.
      “Sudah ah kak, aku mengantuk. Biarkan aku tidur lagi ya kak, selamat malam kakakku yang cantik,” kataku padanya seraya tersenyum dengan sebuah senyuman yang terkesan dipaksakan. Tapi itu lebih baik, dari pada aku harus terus menangis dihadapannya. Karena aku sadar, air mata hanya akan membuktikan pada kakak bahwa aku benar-benar seorang gadis yang lemah.
      Suara kumandang adzan subuh menggema, mengisi sudut-sudut kota Jakarta yang penuh sesak dengan hiruk pikuk kehidupannya yang serba wow!. Kicau burung hanya sesekali terdengar dan hanya menyisakan desiran sungai yang amat payah. Lima tahun sudah ayah dan ibu pergi jauh meninggalkan ku. Selama itu pula aku, kak Mega, serta kedua adik kembarku Lala dan Lili mulai dapat menata kehidupan keluarga kami kembali. Memulai segalanya dari awal, mencoba menyusun bagian demi bagian dari hidup kami yang hilang dan berserakan. Namun, semua itu tak semudah yang kami bayangkan, karena saat ini kami hanya hidup berempat di sebuah rumah kecil dan sederhana peninggalan terakhir almarhumah ayah dulu. Saat ini kami bagai burung-burung kecil yang belum sempat belajar untuk terbang, namun telah dipaksa untuk meninggalkan sarang dan menghadapi kehidupan yang penuh dengan pemangsa.
      Namun semua kesulitan dan kesedihan yang aku rasakan menjadi lebih ringan, karena aku memiliki sosok seorang kakak yang mampu mengayomi aku dan kedua adik kembarku. Dialah kak Mega. Seorang kakak yang sanggup membimbing dan menenangku di kala aku takut menatap gelapnya kabut kehidupan. Seorang kakak yang mampu menuntunku di saat aku tersesat di antara kebohongan-kebohongan dunia.
      “Jingga… cepat bersihkan rumahnya, lalu bantu Lala dan Lili mempersiapkan keperluan sekolahnya,” panggil kak Mega yang masih sibuk memasak di dapur.
      “Siap, kakak,” jawabku penuh semangat.
      Aku berlari kecil, berharap kedua adik kecilku telah terbangun dari mimpi panjang mereka. Dan benar saja dua makhluk manis itu tengah berlarian dengan mulut yang penuh remah roti, mungkin mereka ingin bersembunyi karena takut mendapat omelan dariku. Aku hanya menatap geli raut wajah mereka yang ketakutan.
      “Lala, Lili… sudah yuk main petak umpetnya. Ayo mandi dulu, nanti berangkatnya kalau kesiangan kakak tinggal lho,” kataku merayu sembari menggandeng kedua tangan mungil mereka.
      Aku bahagia memiliki saudara-saudara yang begitu menyanyangiku, terlebih lagi kak Mega. Dia adalah sebuah kebanggaan tersendiri bagi keluargaku, kak Mega adalah sosok gadis yang sangat tangguh. Di usia yang sebelia itu dia mampu bertahan di saat keluargaku benar-benar di tepi kehancuran, bahkan dia rela melepas masa mudanya dan juga pendidikannya di sebuah Universitas terkemuka di Jakarta demi menjadi tulang punggung keluarga. Siang malam dia mengelana kesana-kemari demi sesuap nasi bagi aku dan kedua adikku.
      Sebenarnya aku tak rela melihat kak Mega harus berjuang seorang diri untuk mencukupi kebutuhan kami. Suatu malam ketika kami sedang bersantai di teras depan rumah, aku pernah menawarkan diri untuk berhenti sekolah dan membantu kak Mega bekerja semampuku. Tapi keinginanku itu di tolaknya mentah-mentah, kak Mega bersih keras bahwa kehidupan kami saat ini 100% menjadi tanggung jawabnya sebagai anak tertua dalam keluarga.
      “Sudahlah Jingga, apa kau meragukan kakak? Apa kamu tidak yakin kakak bisa menjaga dan mengayomi kalian? Jika kamu berfikir begitu silahkan lakukan apapun yang ingin kamu lakukan, tapi ingat jangan pernah salahkan kakak jika hal buruk terjadi padamu!” kata-kata kak Mega malam itu membuatku merinding, lidahku kelu tak mampu berkata lagi. Mungkin sifat keras kepalanyalah yang membuat kak Mega mampu menjadi setegar itu.
      “Jingga, kok kamu melamun awas lo kesambet!” bentak kak Mega mengangetkanku.
      “Ih, aku hanya sedang berfikir kak.”
      “Ya udah cepat berangkat, lihat tu Lala dan Lili sudah menanti di atas kereta kencana. Hehehe”
      “Ih kakak… ya udah kak, Jingga berangkat dulu, assalamu’alaikum,” jawabku singkat.
      Tanpa berfikir panjang, kukayuh sepeda tuaku. Rasa letih yang mendera tubuhku terhapuskan oleh celotehan lucu kedua adikku, hingga jauhnya jarak tak memupuskan semangat pagiku.
      Seusai mengantarkan kedua adikku, ku lanjutkan langkah menuju SMA tercintaku. Namun sesuai dugaanku, setiap kali aku baru menginjakkan kaki ke ruangan tempat di mana aku akan menimba ilmu, aku selalu disambut oleh sindiran beberapa orang temanku. Yang entah disengaja atau tidak, sindiran itu menyayat hatiku.
      “Heh guys, si anak yatim piatu datang nih. Lihat tu gayanya sok imut banget, idih…” celetuk seorang gadis cantik dari sudut ruang kelas.
      “Emang dasar gelandangan, hahahaha…” sahut salah seorang dari mereka.
      “Udah miskin, masih aja nekat sekolah di SMA se-elit ini. Nggak sadar,”
      Aku hanya tertunduk, mencoba menahan semua rasa sakit yang selalu mereka berikan padaku. Semenjak kepergian kedua orang tuaku, mereka sering melontarkan kata-kata pedas padaku. Namun, kesedihan yang mereka berikan padaku tak akan pernah menggoyahkan hatiku, aku hanya akan selalu membalas rasa sakit itu dengan senyuman dan senyuman hingga aku merasa tak mampu lagi melakukannya.
      “Udah Jingga, nggak usah kamu dengerin omongan nggak penting kayak gitu buang-buang waktu,” kata Rehan teman baikku. Aku hanya tersenyum, tak ada perlawanan yang ingin kulakukan karena itu hanya akan memperkeruh permasalahan. Toh perkataan mereka tak membuatku cedera secara fisik.
      “Iya, makasih ya Rehan. Kamu emang teman baikku.”
      Mungkin di sini ada orang-orang yang membenciku, tapi di tempat ini juga  masih banyak yang menghargai dan tulus menjadi temanku. Detik demi detik yang aku lalui di sekolah ini terasa begitu menyenangkan, setidaknya di sini aku bisa berkumpul dan bercanda bersama sahabat-sahabatku, melupakan sejenak beban hidup yang selalu menghantuiku. Ya, walaupaun terkadang aku berada di tengah lautan yang penuh dengan ikan arwana yang sewaktu-waktu siap melahapku. Tapi aku dan semangatku tak akan pernah mati, kakiku akan terus berdiri melangkah pasti untuk memanfaatkan jalan yang telah kak Mega bukakan untukku.
                                                        ***
      Aku tertegun di antara celah jendela, memandang mega yang berlari mengejar senja. Fikiranku kacau dan melayang-layang, aku merasa bingung di manakah gerangan keberadaan kak Mega sekarang. Tak biasa-biasanya kak Mega belum pulang kerja, bahkan tak ada kabar berita darinya.
      Tiba-tiba pandanganku teralihkan oleh sebuah sosok yang tengah berjalan terengah-engah menuju halaman rumah ku, sesosok laki-laki paruh baya yang sama sekali tidak aku kenali. Aku mengamatinya lama, hingga suara ketukan pintu menyadarkan lamunanku.
      “Assalamu’alaikum… permisi…”
      “Wa’alaikumsalam, iya sebentar,” jawabku kaget seraya berlari menuju ruang tamu.
      “Maaf nak, apa benar ini rumah Mega Pratiwi?” tanya bapak itu panik.
      “Iya, benar. Ada yang bisa saya bantu pak? Ayo pak, silahkan masuk dulu.”
      “Tidak usah nak di sini saja, bapak hanya ingin memberi tahu bahwa nak Mega tadi pingsan dan sekarang ada di rumah sakit,” jelas bapak itu dengan raut muka sedih.
      “Apa pak? Kak Mega??????? Lalu bagaimana keadaan kakak saya pak?” tanyaku dengan perasaan yang amat cemas.
      “Jangan khawatir mungkin nak Mega hanya kelelahan. Lebih baik kamu ikut bapak saja sekarang, kita temui kakakmu,” katanya mencoba menenangkanku.
      “Iya, baik pak.”
      Selama perjalan, alunan do’a tak henti-hentinya terucap di antara kepanikan yang menyelubungiku. Sesampainya di rumah sakit, ku langkahkah kaki secepat aku mampu. Mencari sosok yang sedari tadi tengah aku nanti, di tengah kegelisahan aku menemukan sosok kak Mega yang masih terbaring pingsan di ranjangnya.
      Aku berhamburan mendekatinya sembari memegang erat-erat tangan sosok dihadapanku ini, aku hanya mampu menangis dan sesekali memanjatkan do’a untuk kesembuhannya. Sebuah suara lembut terdengar memanggil namaku “Jingga… Jingga”, tanpa aku sadari aku tertidur lelap di samping kak Mega yang ternyata telah tersenyum memandangku.
      “Kak Mega…” sentak aku memeluknya.
      “Sebenarnya kakak kenapa sih? Kok tiba-tiba bisa pingsan, lama lagi. Membuat orang panik saja,”
      “Maaf… maaf, kakak nggak apa-apa kok. Kata dokter kakak hanya kelelahan dan butuh banyak istirahat, nanti juga sudah boleh pulang,” jawab kak Mega dengan gaya sok kuatnya.
      “Sungguh kakak hanya kelelahan saja? Kak Mega nggak mau cek dulu? Lihatlah tu, wajah kakak pucat,” kataku yang masih cemas.
      “Iya… sayang, kakak paling tahu keadaan tubuh kakak. Ngomong-ngomong di mana Lala dan Lili, kok sama sekali nggak kelihatan?”
      “Ya Allah… Aku lupa kak, mereka tadi masih tertidur saat aku menuju kemari. Karena panik aku lupa membawa meraka. Aduh…” jawabku dengan ekspresi yang kembali panik.
      “Jingga…Jingga… pikunnya nggak ketulungan. Ya udah, ayo cepat bantu kakak beres-beres terus kita pulang,” kata kak Mega sambil tersenyum.
      Malam kian merayap bersama gelap, berteman sunyi dan sepinya hari. Di sudut tempat sujud itu, terdengar sayup isak tangis. Ku dekati suara itu yang tak lain adalah isak tangis kak Mega.
      “Apa yang terjadi kak?” tanyaku padanya. Dalam temaram ruangan, dia menjawab pelan sembari menyeka air mata yang tertinggal di pipinya.
      “Nggak ada apa-apa kok, Jingga.”
      “Jangan bohong kak, ayolah kak jangan pendam semua beban dan keluh kesah kakak sendiri. Berbagilah sedikit kesedihan kakak padaku.”
      “Enggak dik, kakak nggak apa-apa kok. Kakak hanya teringat ayah dan ibu saja,” jawabnya meyakinkanku dengan senyum di bibirnya. Namun, aku menangkap siratan kesedihan yang terpancar dari sudut matanya.
      Semenjak pulang dari rumah sakit tiga hari yang lalu, bukan sekali atau dua kali aku menangkap basah kak Mega melamun bahkan menangis seorang diri seperti saat ini. Terlebih lagi saat semua tengah terlelap tidur, kak Mega sering terbangun mendirikan sholat tahajjud. Entah apa yang dia minta setiap kali memanjatkan do’a, yang aku tahu selalu ada air mata mengiringi kekhusyukkannya. Dan setiap aku mencoba bertanya jawabannya tetap sama, “Nggak ada apa-apa kok dik”. Singkat namun tak terbantahkan.
      Aku khawatir kak Mega menyembunyikan sesuatu dariku, sesuatu yang besar hingga mampu mengusik fikirannya. Namun aku terus bersikap wajar, meski sesekali aku mencoba mencari tahu penyebab perubahan sikap kak Mega akhir-akhir ini. Diam-diam aku sering mengamati kak Mega, namun hasilnya nihil. Tak setitik jawabanpun yang aku dapat, justru kemarahan kak Megalah yang sering aku temui karena kak Mega berfikir aku terlalu mencampuri urusan pribadinya.
      Aroma tanah yang basah terguyur hujan menusuk hidung, minggu pagi yang kelabu. Bagaimana tidak, semenjak adzan subuh berkumandang langit tak mengijinkan sang surya tuk menebarkan senyumnya di atas cakrawala. Hal yang berbanding terbalik terjadi pada kak Mega, dia begitu bersemangat mengerjakan ini dan itu tanpa pernah ada rasa lelah di raganya. Aku bahagia kak Mega kembali tersenyum, meski tak secerah dulu.
     “Jingga… kamu ngapain sih malah ngelihatin hujan? Ayo sini bantu kakak buat kue,” panggil kak Mega dari arah dapur. Kulihat Lala dan Lili berjalan kesana-kemari sambil sesekali menggoda kak Mega yang tengah asyik dengan pekerjaannya.
      “Kak Mega nih, setiap hari kerja… kerja… dan kerja. Kasihani badan kakak dong, lihat tu tambah kurus beberapa bulan ini. Aku lihat kakak juga sering pingsan akhir-akhir ini. Kakak sakit?”
      “Mungkin kakak agak kurusan karena banyak fikiran, dik. Ya do’akan saja kakak tetap sehat, supaya kakak tetap dapat mendampingi kalian.”
      “Pasti itu kak, bukan hanya dalam do’a di setiap desah nafasku pun selalu mendo’akan kesehatan dan kebahagiaan kakak. Karena kakak adalah segalanya bagiku dan juga bagi Lala dan Lili.”
      “Bisa aja ya kamu tu, dasar adik kakak satu ini perhatian banget. Ya udah kakak mau anterin kue-kue pesanan ini ke warung dulu, jaga rumah dan adikmu.”
      “Nggak kak, kali ini biar Jingga saja yang antar kue-kue ini ke warung. Lebih baik kak Mega istirahat saja, wajah kak Mega pucat banget. Kali ini Jingga maksa lho kak,” kataku sembari merebut kue-kue yang berada di tangan kak Mega.
      Rintik-rintik hujan mengguyur seluruh tubuhku, rasa dingin yang menusuk tulangku tak dapat ku elakkan. Ku tatap dua tumpuk kue yang masih berada di tanganku. Tiba-tiba aku teringat kak Mega, akupun kembali melangkah meski sesekali suara petir terdengar menggelegar dan memaksaku untuk kembali berteduh.
      “Jingga…” sebuah suara terdengar memanggilku, tapi tak seorangpun berada di sekitarku.
      “Nak Jingga… tunggu nak…!” suara seseorang yang memanggil namaku kembali terdengar jelas. Ku edarkan pandangan di antara rintik-rintik hujan yang mulai deras, hingga akhirnya aku menangkap sebuah sosok yang berlari mendekatiku dengan langkah terengah-engah.
      “Pak Toni? Ada apa, pak? Sepertinya bapak panik sekali?”
      “Sebaiknya kamu segera pulang, nanti bapak jelaskan di rumah,” jawab pak Toni sambil memintaku untuk naik ke atas sepeda motornya.
      “Pak, ada apa ini kok sepertinya ramai-ramai?”
      “Sebaiknya kamu, masuk dulu nak. Nanti kamu pasti akan tahu sendiri.”
      Deg… tiba-tiba saja jantungku berdegup kencang, di saat langkah pertamaku baru memasuki pintu. Terdengar suara tangis Lala dan Lili dari arah kamar kak Mega. Aku bingung menatap kerumunan orang yang terus saja mengatakan, “Kasihan ya mereka, padahal baru saja di tinggal kedua orang tuanya. Sekarang kakaknya malah…”. Kata-kata mereka terhenti karena melihat kedatanganku, mereka menatapku nanar. Tuhan… apa yang terjadi?
      “Bruaaak…” suara kotak kue yang sedari tadi masih aku genggam seketika jatuh berantakan di ambang pintu kamar kak Mega. Kulihat kak Mega tergolek pingsan dengan tangan bersimbah darah, darah segar yang masih mengalir dari hidungnya.
      “Kakak…” teriakku mendekati Kak Mega yang tak sadarkan diri, aku memeluk tubuh kak Mega erat dan menangis sejadi-jadinya.
***
      Angin sore kembali datang bersama rasa dingin yang menusuk tajam, kusempatkan diri untuk membereskan kamar kak Mega yang cukup berantakan. Entah mengapa aku tertarik membongkar laci kak Mega, berharap ada sesuatu yang bisa aku gunakan untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada kak Mega dua hari yang lalu. Sesuatu yang masih saja di sembunyikan kak Mega dariku, padahal sesuatu yang buruk benar-benar sedang terjadi pada diri kak Mega. Di laci terbawah aku mendapati sesuatu yang tak wajar, sebuah map di sembunyikan rapat di antara tumpukan tisu yang penuh darah yang mulai mengering. Aku terkejut! Perlahan aku buka map yang sudah kumal itu. Ku tarik perlahan, di bagian teratas tertulis “Hasil Tes Kesehatan RS Budi Utama”, nama rumah sakit yang dulu pernah merawat kak Mega. Aku menjadi begitu penasaran dengan isi surat itu, kembali ku menarik kertas itu, kali ini ku tarik dengan paksa. Dan sebuah kenyataan yang menyakitkan terungkap, kak Mega mengidap Leukimia stadium akhir.
      Pertanyaan-pertanyaan yang akhir-akhir ini berkecambuk dalam benakku terjawab juga, aku terduduk lemas di bawah ranjang kak Mega. Ingin rasanya aku memeluk kak Mega, tapi jangankan memeluk berdiripun aku tak mampu. Air mataku semakin deras mengalir, aku tak dapat menahannya.
      Hatiku hancur berkeping-keping, rasa takut dan marah hinggap dalam dadaku. Mengapa Tuhan menguji keluarga kami terus-menerus? Tidakkah Dia tahu, aku sudah cukup terluka karena kehilangan ayah dan ibu. Dan sekarang apakah aku juga harus kehilangan kak Mega? Tuhan ambil saja nyawaku juga, karena aku tak mungkin sanggup menghadapi semua ini sendiri.
      “Jingga, bagaimana keadaan kakakmu?” suara seseorang yang tiba-tiba datang mengagetkanku, suara itu ternyata adalah suara dokter Leo yang menangani kak Mega sewaktu kak Mega dirawat di rumah sakit.
      “Dokter, apa yang sebenarnya terjadi pada kakak dua hari yang lalu? Kenapa bisa sampai seperti ini? Kenapa waktu di rumah sakit dan juga dua hari yang lalu dokter bilang kak Mega baik-baik saja? Dan kenapa juga kak Mega sama sekali tak memberitahuku tentang masalah ini?” Rasanya ribuan pertanyaan ingin ku sodorkan padanya, aku meronta dan terus bertanya. Dokter hanya membisu. Beberapa saat kemudian dokter Leo memandangku, melirik map yang ku pegang.
      “Jingga… kamu pasti sudah tahu semuanya ya? Iya, penyakit itulah yang kini tenggah menggerogoti sel-sel darah putih kakakmu. Kamu jangan salah sangka dulu pada kakakmu, dia diam dan tidak memberitahu kebenarannya padamu adalah agar kamu tidak merasa sakit tuk kehilangan yang kedua kalinya. Dia memikirkan kebahagiaan kalian, meski harus berjuang di antara jembatan kehidupan dan kematian seorang diri. Semua demi kalian.”
      “Tapi dok! Apa kak Mega pikir dengan menyembunyikan semuanya dariku, semua akan jadi lebih baik dok! Justru semua ini akan membuatku makin terluka, jika seandainya aku mengetahui semuanya setelah kak Mega pergi, aku akan mengutuk diriku karena tak bisa memberi kebahagiaan di saat-saat terakhir kak Mega.”
      “Iya Jingga, dokter mengerti benar bagaimana perasaanmu. Tapi bagaimanapun juga semua ini adalah ujian, jadi kamu harus tetap tabah. Kamu harus bisa setegar kakakmu karena kelak kamu akan menjadi tulang punggung bagi kedua adik kecilmu itu.”
      “Dokter, kak Mega sadar,” panggil Lala memotong perdebatan ku dan dokter Leo.
      “Dok..ter… Ji…ngga…,” ucap kak Mega dengan suara yang agak tertahan. Dari caranya memandang ku, sepertinya dia telah mendengar semua percakapan yang terjadi antara aku dan dokter Leo.
      “Jingga, maafin kakak ya karena belum sempat memberitahumu tentang semua ini. Karena kakak merasa belum mendapat waktu yang tepat untuk membicarakannya padamu.”
      Aku hanya tertunduk diam, lalu menarik nafas panjang.
      “Kakak jahat, masalah sebesar ini masih juga ditutupi. Kakak pikir semua akan baik-baik saja dengan menghadapinya sendiri? Apa kakak merasa bangga bisa menanggungnya sendiri?”
      “Bukan begitu dik.”
      “Coba kakak pikir, bagaimana jika aku tau di saat semuanya telah terlambat. Bukankah yang paling terluka nantinya adalah kami kak, kami yang kau tinggalkan?”
      “Maafkan kakak ,dik?” jawab kak Mega dengan tatapan yang berkaca-kaca.
      Melihat kak Mega seperti ini hatiku menjadi luluh, kemarahan yang aku rasakan karena telah dibohongi perlahan memudar.
      “Iya kak, nggak apa-apa. Justru Jingga yang minta maaf karena membiarkan kakak menderita seorang diri selama ini, maafkan Jingga ya Kak,” aku memeluk kak Mega erat-erat tak ingin rasanya melepas kak Mega, sebab aku takut suatu saat akan tiba masa di mana tak akan ada lagi kehangatan dari tubuh kak Mega.
      Setelah memastikan keadaan Kak Mega baik-baik saja dokter Leo berpamitan karena ada pasien yang kini tengah kritis dan membutuhkan bantuannya.
      “Sudah Jingga, kamu tidak perlu khawatir semua kan baik-baik saja untuk saat ini.”
      “Maksud dokter?”
      “Sepertinya ini saat yang tepat untuk kamu tahu, bahwa sekarang ini kakakmu memiliki harapan hidup yang amat kecil dan sampai saat ini belum ada obat untuk penyakitnya, apalagi kakakmu telah mencapai stadium akhir. Keadaan Megapun bertambah parah semenjak penyakit Leukimia itu ditemukan bersarang di tubuh kakakmu satu tahun yang lalu. Salah satu penyebab bertambah parahnya penyakit Mega adalah karena penolakan kakakmu untuk mendapatkan pengobatan medis dengan berbagai alasan.”
      “Lalu berapa lama kak Mega dapat bertahan dok?”
      “Satu tahun yang lalu, diprediksikan Mega hanya mampu bertahan 7 bulan. Tapi kenyataannya sampai saat ini dia masih tetap bertahan, bahkan dia baik-baik saja. Dia memang sosok seorang gadis yang hebat, jadi kami sebagai manusia biasa tak bisa memprediksi usia seseorang. Semua tergantung pada semangat hidup kakakmu dan juga tergandung pada Tuhan. Jadi manfaatkan momen bersama kakakmu selama kalian masih mampu.”
      “Dokter, jangan bicara aneh-aneh ya sama Jingga,” sahut kak Mega tiba-tiba dari balik pintu kamar. Di saat seperti ini kak Mega masih saja tersenyum bahagia.
      “Iya Mega, ya sudah Dokter pergi dulu. Jaga kesehatan dan jangan terlalu lelah ya,” ucap Dokter Leo sambil melangkah pergi.
       Aku dan Kak Mega mengantar kepergian Dokter Leo hingga ke jalan raya, aku bersyukur masih ada dokter sebaik dokter Leo yang begitu tulus membantu keluarga miskin seperti kami.
      Sesekali aku melirik kak Mega, terpahat garis kelelahan di wajahnya. Aku mengajak kak Mega untuk duduk sejenak di teras depan sembari menatap langit sore yang terbentang cerah. Lala dan Lili berlari kecil dan duduk di antara kami. Aku menatap kak Mega, mencoba membaca hati seorang kakak bernama Mega yang bisa begitu tabah menghadapi hujan cobaan yang terus mendera tanpa ada jeda.
      Sesaat aku menyadari betapa bodohnya aku, karena selama ini sama sekali tak menyadari keanehan pada Kak Mega. Padahal aku sering melihat kejanggalan yang terjadi pada kak Mega. Mengapa aku tak bertanya padanya di saat aku melihat rambut indahnya berjatuhan bila di sisir? Kenapa aku juga tak bertanya apa yang terjadi pada tubuhnya yang semakin mengurus itu? Mungkin ini memang kebodohanku, aku terlalu naif dan tak pernah tahu apa-apa. Aku selalu mengaku menyayangi kakakku tapi sama sekali tak tahu apa yang terjadi padanya. Tuhan… jika boleh aku meminta, aku mohon jangan Engkau ambil nyawa kak Mega. Setidaknya sampai aku siap menerima semuanya, karena saat ini aku masih tak tahu apa yang kelak harus aku lakukan tanpa kehadiran kak Mega di sisiku. Ketahuilah Tuhan… saat ini kak Mega adalah satu-satunya tongkat yang mampu membuatku berdiri tegak.
      “Husst… kebiasaannya melamun, kebiasaan jelek ah,”
      “Jingga sedang berfikir kak,” kata yang acap kali kuucapkan ketika aku tertangkap basah kak Mega sedang melamun.
      “Jingga, kamu jangan terlalu banyak berfikir yang tidak-tidak ya?” ucap kak Mega sambil mengalihkan pandangannya pada mega yang terus berlari menuju tempat ia akan beristirahat.
      “Kakak…” belum sempat aku menyelesaikan perkataanku, kak Mega langsung memotong pembicaran. Mungkin dia menangkap kesedihan di sudut mata kecilku.
      “Ingat ya Jingga, kita tidak boleh mengucapkan selamat tinggal, jika kita masih bisa bertemu. Kita juga tidak boleh menyerah, selama kita masih merasa sanggup tuk berusaha. Saat ini, kedua hal itulah yang kini tengah kakak terapkan dalam kehidupan kakak yang setiap saat dapat berakhir. Kematian adalah sesuatu yang pasti terjadi pada semua orang, hanya saja kematian itu menjemput setiap orang dalam waktu yang bebeda. Mungkin hari ini kakak memang bagaikan sebuah lilin kecil yang dapat padam sewaktu-waktu bila angin berhembus dan Allah menghendaki, tapi lihatlah… kakak masih ada di sini duduk bersama mu, Lala, dan Lili, karena apa? Ya, karena Allah masih mengijinkan kakak mendampingi dan menuntun kalian, hingga Allah merasa kalian cukup kuat untuk menatap dunia ini sendiri. Ketahuilah Jingga, di antara semua kenyataan ini, kakak tetap bersyukur karena sampai detik ini kakak masih bisa bernafas lega dan menikmati keindahan senja bersamamu…”




***
SELESAI



12/12/12

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS