Pudarnya Kemilau Dunia
Pudarnya
Kemilau Dunia
Mentari
yang letih mulai menampakkan merahnya, memberi nuansa damai bagi setiap pasang
mata yang memandangnya. Senja yang indah bernaung di kaki langit, ikut
menyelimuti panorama danau yang luar biasa. Di antara semua keindahan dunia
itu, tampak seorang gadis berjilbab putih duduk di sebuah bangku yang telah
tersedia di tepi danau. Wajahnya begitu damai, namun tatapannya kosong tak
berarah. Gadis berparas cantik itu bernama Mutiara, seorang gadis remaja yang
tengah berada dalam masa di mana dia tengah gencar-gencarnya merangkai dan
mengejar mimpi indah layaknya anak seusianya. Namun ada yang berbeda dari sosok
gadis yang akrap dipanggil Tiara ini, dia tak dapat menikmati indahnya dunia
karena saat ini yang ada dihadapannya hanya kegelapan.
Dahulu
Tiara dilahirkan sebagai anak yang normal, penglihatannyapun tak pernah
bermasalah. Tiarapun tumbuh sebagai gadis yang ceria, berambisi, dan penuh
dengan mimpi. Hingga suatu hari sebuah kecelakaan merenggut warna-warni dalam
hidupnya.
Mimpi
buruk itu terjadi kurang lebih satu tahun silam. Kala itu Tiara adalah sosok
gadis yang sangat ceria, ramah, dan mudah bergaul dengan siapapun.
Sang
surya pagi tampak malu-malu keluar dari persembunyiaanya, namun perlahan
silaunya menembus kabut dan tersenyum pada dunia. Awal yang baik untuk
mengawali hari yang luar biasa. Seorang gadis tengah mengayuh sepeda melewati
hamparan sawah dan rimbunya pepohonan, terlukis rona bahagia dan tawa di
wajahnya. Ya itu dia Tiara, bersama
dinginya cuaca kota Bandung Tiara begitu bersemangat menuju ke tempat di
mana dia akan menuntut ilmunya. Dalam perjalanan pagi itu Tiara tak sendiri,
selalu ada sahabat seperjalanan di sisinya.
"Wah
hari ini cerah banget yah, kayaknya bakal jadi hari yang paling menyenangkan
deh Tiara," kata seorang gadis yang juga tengah mengayuh sepeda di samping
Tiara.
"Iya
Van, kayaknya Tuhanpun ikut bersemangat buat mendukung kita ikut kompetisi
nanti. Aku udah gak sabar," kata Tiara dengan mata berbinar pada Vina
sahabat baiknya.
"Kamu
pasti bisa Tiara, semangat ya. Berawal dari sini kamu akan semakin dekat dengat
mimpimu sebagai seorang pelukis dunia," sahut Vina dengan kobaran semangat
di matanya.
Tiara
kini tengah menempuh sebuah pendidikan di salah satu sekolah seni yang cukup
terkenal di kotanya, awalnya keinginan Tiara untuk masuk ke sekolah ini
ditentang keras oleh sang ayah. Sebah
sang ayah lebih menginginkan putri bungsunya ini kelak menjadi pengacara
kondang, tapi apa daya tekat Tiara mengalahkan segalanya. Kecintaannya dalam
dunia seni, khususnya melukis membawanya ke dalam dunia yang benar-benar
membuatnya merasa hidup. Dan hari ini memang hari yang telah lama dinantikan
oleh Tiara, karena akan diadakan sebuah kompetisi melukis tingkat nasional.
Betapa menggepunya semangat dalam dada Tiarat hari yang telah diimpikannya
semenjak dia kecil datang jua. Kompetisi ini akan menjadi salah satu jembatan
Tiara untuk menuju ke panggung dunia Paris, kota di mana pelukis-pelukis hebat
terlahir.
Mentari
yang letih mulai menampakkan merahnya, memberi nuansa damai bagi setiap pasang
mata yang memandangnya. Senja yang indah bernaung di kaki langit, ikut
menyelimuti panorama danau yang luar biasa. Di antara semua keindahan dunia
itu, tampak seorang gadis berjilbab putih duduk di sebuah bangku yang telah tersedia
di tepi danau. Wajahnya begitu damai, namun tatapannya kosong tak berarah.
Gadis berparas cantik itu bernama Mutiara, seorang gadis remaja yang tengah
berada dalam masa di mana dia tengah gencar-gencarnya merangkai dan mengejar
mimpi indah layaknya anak seusianya. Namun ada yang berbeda dari sosok gadis
yang akrap dipanggil Tiara ini, dia tak dapat menikmati indahnya dunia karena
saat ini yang ada dihadapannya hanya kegelapan.
Dahulu
Tiara dilahirkan sebagai anak yang normal, penglihatannyapun tak pernah
bermasalah. Tiarapun tumbuh sebagai gadis yang ceria, berambisi, dan penuh
dengan mimpi. Hingga suatu hari sebuah kecelakaan merenggut warna-warni dalam
hidupnya.
Mimpi
buruk itu terjadi kurang lebih satu tahun silam. Kala itu Tiara adalah sosok
gadis yang sangat ceria, ramah, dan mudah bergaul dengan siapapun.
Sang
surya pagi tampak malu-malu keluar dari persembunyiaanya, namun perlahan
silaunya menembus kabut dan tersenyum pada dunia. Awal yang baik untuk
mengawali hari yang luar biasa. Seorang gadis tengah mengayuh sepeda melewati
hamparan sawah dan rimbunya pepohonan, terlukis rona bahagia dan tawa di
wajahnya. Ya itu dia Tiara, bersama
dinginya cuaca kota Bandung Tiara begitu bersemangat menuju ke tempat di
mana dia akan menuntut ilmunya. Dalam perjalanan pagi itu Tiara tak sendiri,
selalu ada sahabat seperjalanan di sisinya.
"Wah
hari ini cerah banget yah, kayaknya bakal jadi hari yang paling menyenangkan
deh Tiara," kata seorang gadis yang juga tengah mengayuh sepeda di samping
Tiara.
"Iya
Van, kayaknya Tuhanpun ikut bersemangat buat mendukung kita ikut kompetisi
nanti. Aku udah gak sabar," kata Tiara dengan mata berbinar pada Vina
sahabat baiknya.
"Kamu
pasti bisa Tiara, semangat ya. Berawal dari sini kamu akan semakin dekat dengat
mimpimu sebagai seorang pelukis dunia," sahut Vina dengan kobaran semangat
di matanya.
Tiara
kini tengah menempuh sebuah pendidikan di salah satu sekolah seni yang cukup
terkenal di kotanya, awalnya keinginan Tiara untuk masuk ke sekolah ini
ditentang keras oleh sang ayah. Sebah
sang ayah lebih menginginkan putri bungsunya ini kelak menjadi pengacara
kondang, tapi apa daya tekat Tiara mengalahkan segalanya. Kecintaannya dalam
dunia seni, khususnya melukis membawanya ke dalam dunia yang benar-benar
membuatnya merasa hidup. Dan hari ini memang hari yang telah lama dinantikan
oleh Tiara, karena akan diadakan sebuah kompetisi melukis tingkat nasional.
Betapa menggepunya semangat dalam dada Tiarat hari yang telah diimpikannya
semenjak dia kecil datang jua. Kompetisi ini akan menjadi salah satu jembatan
Tiara untuk menuju ke panggung dunia Paris, kota di mana pelukis-pelukis hebat
terlahir.
"Tiara,
cepat persiapkan alat lukis kamu. Sebentar lagi kompetisi akan segera
dimulai," panggil pak Tio guru yang selalu membingbingku hingga aku mampu
dekat dengan mimpi besarku.
"Iya
pak, saya segera kesana," jawab Tiara.
Kesibukan
yang terjadi menambah kikkuk suasana siang itu, di ujung jalan nan jauh. Tiara
masih saja berkutik dengan peralatannya, dari seberang jalan pak Tio terlihat sedikit
geram menanti anak didiknya satu ini.
"Cepat
Tiara!" teriak pak Tio mulai marah.
"Iya
pak, Tiara kesana," sahut Tiara mulai panik. Entah mengapa alat yang telah
ditata rapi sebelumnya, kembali berserakan di tanah.
Di
seberang jalan tampak Vina tengah melambaikan tangannya, mengisyaratkan sang
sahabat harus segera menuju tempatnya. Dengan perasaan gusar Tiara segera
menuju ke arah sahabatnya itu, karena terburu-buru Tiara tak sempat meoleh
untuk memastikan jalan aman untuk dilalui. Dan benar saja, baru beberapa
langkah Tiara berjalan sebuah truk melesat begitu cepat ke arahnya. Tiara tak
mampu bergeming, truk bermuatan tebu itu dengan ganasnya menghantam tubuh
kecilnya tanpa ampun.
***
Seminggu telah berlalu semenjak
kecelakaan itu, namun tubuh Tiara masih saja terkulai lemah di atas tempat
tidur. Hari-hari dia lewati dengan tidur dan tidur, tanpa dapat melakukan
apapun. Kecelakaan itu mampu mengubah seluruh hidupnya yang penuh warna menjadi
kelabu dan hitam, benturan keras akibat kecelakaan itu membuat matanya buta.
Hancur, sakit, dan putus asa rasa yang kini telah bertahta di relung jiwanya,
semua mimpinya hancur dan hidupnya berantakan.
“Tuhan... Apakah salahku, mengapa
engkau limpahkan cobaan yang begitu berat. Di saat aku mulai dekat dengan mimpiku,
Kau renggut semua kebahagiaanku. Tuhan... bagaimana aku harus menjalani hidupku
kini???” suara hati Tiara bergejolak begitu hebat dalam hatinya.
Hari berganti menjadi minggu, dan
minggu telah terkumpul menjadi bulan. Satu bulan sudah Tiara menjalani harinya
dalam kegalapan, Tiara yang dulu ceria, ramah, dan selalu tersenyum, berubah
menjadi sosok gadis pendiam, murung, dan lebih sering menyendiri. Menyadari
goncangan mental yang kini tengah dialami putrinya itu, sang ayahpun merasakan
kepiluan yang sama. Tak henti-hentinya sang ayah dan bundanya memberikan
nasehat kepada sang putri untuk tetap tegar karena kehidupan masih terus
berjalan.
“Sudahlah nak, tak usah kau sesali
sesuatu yang telah terjadi. Kamu harus tegar nak,” kata sang ayah menasehati.
“Tapi ayah, umtuk apa aku terus
hidup jikalau aku tak bisa melihat. Bagaimana bisa aku meraih mimpiku, bila
membedakan warnapun aku tak mampu? Kalian memang tak pernah mengerti
perasaanku!” teriak Tiara sembari menangis tersedu-sedu.
“Kami mengerti perasaanmu nak,
bagaimanapun juga kami orang tuamu. Kami lebih tahu perasaanmu, jika boleh
memilih Ibu rela memberikan mata ibu padamu. Jangankan mata nak, nyawapun ibu
rela,” sahut sang Ibu dengan nada tercekat.
“Maafkan Tiara Bu, keegoisan dan
ambisi Tiara bukan hanya membutakan mata Tiara tapi juga menutup hati Tiara.
Mulai hari ini Tiara akan lebih bersyukur, karena setidaknya Tuhan masih
membiarkan Tiara hidup.”
***
Kejadian satu tahun silam rupanya
kembali merasuk dalam fikiran Tiara, namun hal itu tak akan sama lagi. Sebab,
semua kegelapan yang ada dalam jalannya tak lagi penting, karena ada yang lebih
penting dari semua itu. Yaitu bagaimana Tiara merangkak, berdiri, dan berlari
mengejar mimpinya lagi. Berlari ketika jalan hidupnya menurun dan merangkak ketika
jalan hidupnya menanjak, dan semua itu hanya untuk meraih bahagia.
“Telah
kuhanyutkan luka pada sungai kecil yang mengalir di sudut mataku, telah ku
kabarkan lewat angin gerimis tentang segala catatan hati, telah kulemparkan
pedih di setiap jengkal sajadah dalam tahajud dan sujud panjangku.” batin Tiara
lirih.
Read Users' Comments (0)







