"Lupakan Dia"
"Lupakan Dia"
Aku tak pernah bisa memahami hatiku sendiri,
telah berulang kali aku mendapati hal yang membuatku harus menghapusmu dari hatiku tapi tak pernah mampu kulakukan.
Aku masih saja sering tertawa seorang diri ketika namamu disebut,
dan masih saja merasa bahagia ketika kamu menyapa.
Aku terus saja berjalan dalam bayanganmu,
mengamati setiap gerak-gerikmu tanpa kamu sadari.
Aku diam-diam selalu memastikan kamu tersenyum di tempatmu,
bersenang-senang dengan duniamu.
Tapi agaknya kamu tak pernah menghargai itu,
atau bahkan tak pernah sadar.
Maaf jika aku selalu merancu hidupmu,
mengikuti setiap langkahmu.
Mungkin kamu mulai merasa bosan dengan keberadaanku,
tapi percayalah aku tak akan mencoba berjalan sejajar denganmu.
Karena apa?
Aku tahu posisiku.
Semua semakin menjauh dari jangkauanku dan hatikupun mulai terasa gersang.
Aku sering merasa muak tentang segala hal yang berhubungan denganmu.
Kamu membuatku marah dengan ketidak pedulianmu itu.
Semakin aku berusaha mengerti rasanya kian memuakkan.
Semakin aku mencoba memahami rasanya kian menyakitkan.
Kamupun tak pernah tahu alasan di balik kediamanku adalah sikapmu.
Ketika aku telah merasa semua sudah saatnya diakhiri,
adalah saat dimana aku,
lelah untuk mengerti,
bosan mencoba memahami...
Secara perlahan aku akan menarik diri,
dan pada akhirnya berhenti "PEDULI"...









0 Response to ""Lupakan Dia""
Posting Komentar